"A"

APRESIASI PUISI 6


AMIR HAMZAH

Padamu Jua

Habis kikis

segala cintaku hilang terbang
pulang kembali aku padamu
seperti dahulu

Kaulah kandil kemerlap
pelita jendela di malam gelap
melambai pulang perlahan
sabar, setia selalu.

Satu kekasihku
aku manusia
rindu rasa
rindu rupa.

Di mana engkau
rupa tiada
suara sayup
hanya kata merangkai hati

Engkau cemburu
engkau ganas
mangsa aku dalam cakarmu
bertukar tangkap dengan lepas

Nanar aku, gila sasar
sayang berulang padamu jua
engkau pelik menarik ingin
serupa dara di balik tirai

Kasihmu sunyi
menunggu seorang diri
lalu waktu - bukan giliranku
mati hari - bukan kawanku.

Hanyut Aku

Hanyut aku, kekasihku!
Hanyut aku!
ulurkan tanganmu, tolong aku.
sunyinya sekelilingku !
tiada suara kasihan, tiada angin mendingin hati,
tiada air menolak ngelak.
Dahagakan kasihmu, hauskan bisikmu, mati aku
sebabkan diammu.
Langit menyerkap, air berlepas tangan, aku tenggelam
     
Tenggelam dalam malam,
air di atas menindih keras
bumi di bawah menolak ke atas
mati aku, kekasihku, mati aku !

Doa Poyongku

Poyangku rata meminta sama
semoga sekali aku diberi
memetik kecapi, kecapi firdausi
menampar rebana, rebana swarga

Poyangku rata semua semata
penabuh bunyian kerana suara
suara sunyi suling keramat

kini rebana di celah jariku
tari tamparku membangkit rindu
kucoba serentak genta genderang
memuji kekasihku di mercu lagu

Aduh, kasihan hatiku sayang
alahai hatiku tiada bahagia
jari menari doa semata
tapi hatiku bercabang dua.

Hanya satu

Timbul niat dalam kalbumu;
terban hujan, ungkai badai
terendam karam
runtuh ripuk tamanmu rampak

Manusia kecil lintang pukang
lari terbang jatuh duduk
air naik tetap terus
tumbang bungkar pokok purba

Teriak riuh/redam terbelam
dalam gagap/gempita guruh
kilau kilat membelah gelap
Lidah api menjulang tinggi

Terapung naik jung bertudung
tempat berteduh Nuh kekasihmu
bebas lepas lelang lapang
di tengah gelisah, swara sentosa
             
Bersemayam sempana di jemala gembala
juriat jelita bapaku Ibrahim
keturunan intan dua cahaya
pancaran putera berlainan bonda.

Kini kami bertikai pangkai
di antara dua, mana mutiara
jauhari ahli lalai menilai
lengah langsung melewat abad

Aduh, kekasihku
padaku semua tiada berguna
hanya satu kutunggu hasrat
merasa dikau dekat rapat
serupa Musa di puncak Tursina.

TAUFIQ ISMAIL
LARUT MALAM SUARA SEBUAH TRUK
Oleh :
Taufiq Ismail

Sebuah Lasykar truk
Masuk kota Salatiga
Mereka menyanyikan  lagu
‘Sudah Bebas Negeri Kita’
Di jalan Tuntang seorang anak kecil
Empat tahun terjaga :
‘Ibu, akan pulangkah Bapa,
dan membawakan pestol buat saya ?’
(1963)
(http://zhuldyn.wordpress.com)

BAGAIMANA KALAU
Bagaimana kalau dulu bukan khuldi yang dimakan Adam,
tapi buah alpukat,
Bagaimana kalau bumi bukan bulat tapi segi empat,
Bagaimana kalau lagu Indonesia Raya kita rubah,
dan kepada Koes Plus kita beri mandat,
Bagaimana kalau ibukota Amerika Hanoi,
dan ibukota Indonesia Monaco,
Bagaimana kalau malam nanti jam sebelas,
salju turun di Gunung Sahari,
Bagaimana kalau bisa dibuktikan bahwa Ali Murtopo, Ali Sadikin
dan Ali Wardhana ternyata pengarang-pengarang lagu pop,
Bagaimana kalau hutang-hutang Indonesia
dibayar dengan pementasan Rendra,
Bagaimana kalau segala yang kita angankan terjadi,
dan segala yang terjadi pernah kita rancangkan,
Bagaimana kalau akustik dunia jadi sedemikian sempurnanya sehingga di
kamar tidur kau dengar deru bom Vietnam, gemersik sejuta kaki
pengungsi, gemuruh banjir dan gempa bumi sera suara-suara
percintaan anak muda, juga bunyi industri presisi dan
margasatwa Afrika,
Bagaimana kalau pemerintah diizinkan protes dan rakyat kecil
mempertimbangkan protes itu,
Bagaimana kalau kesenian dihentikan saja sampai di sini dan kita
pelihara ternak sebagai pengganti
Bagaimana kalau sampai waktunya
kita tidak perlu bertanya bagaimana lagi.
(1971)
(http://zhuldyn.wordpress.com)

BAYI LAHIR BULAN MEI 1998
Dengarkan itu ada bayi mengea di rumah tetangga
Suaranya keras, menangis berhiba-hiba
Begitu lahir ditating tangan bidannya
Belum kering darah dan air ketubannya
Langsung dia memikul hutang di bahunya
Rupiah sepuluh juta
Kalau dia jadi petani di desa
Dia akan mensubsidi harga beras orang kota
Kalau dia jadi orang kota
Dia akan mensubsidi bisnis pengusaha kaya
Kalau dia bayar pajak
Pajak itu mungkin jadi peluru runcing
Ke pangkal aortanya dibidikkan mendesing
Cobalah nasihati bayi ini dengan penataran juga
Mulutmu belum selesai bicara
Kau pasti dikencinginya.
1998
(http://zhuldyn.wordpress.com)

BUKU TAMU MUSIUM PERJUANGAN
Oleh :
Taufiq Ismail
Pada tahun keenam
Setelah di kota kami didirikan
Sebuah Musium Perjuangan
Datanglah seorang lelaki setengah baya
Berkunjung dari luar kota
Pada sore bulan November berhujan
dan menulis kesannya di buku tamu
Buku tahun keenam, halaman seratus-delapan
Bertahun-tahun aku rindu
Untuk berkunjung kemari
Dari tempatku jauh sekali
Bukan sekedar mengenang kembali
Hari tembak-menembak dan malam penyergapan
Di daerah ini
Bukan sekedar menatap lukisan-lukisan
Dan potret-potret para pahlawan
Mengusap-usap karaben tua
Baby mortir buatan sendiri
Atau menghitung-hitung satyalencana
Dan selalu mempercakapkannya
Alangkah sukarnya bagiku
Dari tempatku kini, yang begitu jauh
Untuk datang seperti saat ini
Dengan jasad berbasah-basah
Dalam gerimis bulan November
Datang sore ini, menghayati musium yang lengang
Sendiri
Menghidupkan diriku kembali
Dalam pikiran-pikiran waktu gerilya
Di waktu kebebasan adalah impian keabadian
Dan belum berpikir oleh kita masalah kebendaan
Penggelapan dan salahguna pengatasnamaan
Begitulah aku berjalan pelan-pelan
Dalam musium ini yang lengang
Dari lemari kaca tempat naskah-naskah berharga
Kesangkutan ikat-ikat kepala, sangkur-sangkur
berbendera
Maket pertempuran
Dan penyergapan di jalan
Kuraba mitraliur Jepang, dari baja hitam
Jajaran bisu pestol Bulldog, pestol Colt
PENGOEMOEMAN REPOEBLIK yang mulai berdebu
Gambar lasykar yang kurus-kurus
Dan kuberi tabik khidmat dan diam
Pada gambar Pak Dirman
Mendekati tangga turun, aku menoleh kembali
Ke ruangan yang sepi dan dalam
Jendela musium dipukul angin dan hujan
Kain pintu dan tingkap bergetaran
Di pucuk-pucuk cemara halaman
Tahun demi tahun mengalir pelan-pelan
Deru konvoi menjalari lembah
Regu di bukit atas, menahan nafas
Di depan tugu dalam musium ini
Menjelang pintu keluar ke tingkat bawah
Aku berdiri dan menatap nama-nama
Dipahat di sana dalam keping-keping alumina
Mereka yang telah tewas
Dalam perang kemerdekaan
Dan setinggi pundak jendela
Kubaca namaku disana…..
(http://zhuldyn.wordpress.com)
WS. RENDRA
AKU TULIS PAMPLET INI
Oleh :
W.S. Rendra
Aku tulis pamplet ini
karena lembaga pendapat umum
ditutupi jaring labah-labah
Orang-orang bicara dalam kasak-kusuk,
dan ungkapan diri ditekan
menjadi peng – iya – an
Apa yang terpegang hari ini
bisa luput besok pagi
Ketidakpastian merajalela.
Di luar kekuasaan kehidupan menjadi teka-teki
menjadi marabahaya
menjadi isi kebon binatang
Apabila kritik hanya boleh lewat saluran resmi,
maka hidup akan menjadi sayur tanpa garam
Lembaga pendapat umum tidak mengandung pertanyaan.
Tidak mengandung perdebatan
Dan akhirnya menjadi monopoli kekuasaan
Aku tulis pamplet ini
karena pamplet bukan tabu bagi penyair
Aku inginkan merpati pos.
Aku ingin memainkan bendera-bendera semaphore di tanganku
Aku ingin membuat isyarat asap kaum Indian.
Aku tidak melihat alasan
kenapa harus diam tertekan dan termangu.
Aku ingin secara wajar kita bertukar kabar.
Duduk berdebat menyatakan setuju dan tidak setuju.
Kenapa ketakutan menjadi tabir pikiran ?
Kekhawatiran telah mencemarkan kehidupan.
Ketegangan telah mengganti pergaulan pikiran yang merdeka.
Matahari menyinari airmata yang berderai menjadi api.
Rembulan memberi mimpi pada dendam.
Gelombang angin menyingkapkan keluh kesah
yang teronggok bagai  sampah
Kegamangan. Kecurigaan.
Ketakutan.
Kelesuan.
Aku tulis pamplet ini
karena kawan dan lawan adalah saudara
Di dalam alam masih ada cahaya.
Matahari yang tenggelam diganti rembulan.
Lalu besok pagi pasti terbit kembali.
Dan di dalam air
lumpur kehidupan,
aku melihat bagai terkaca :
ternyata kita, toh, manusia !
Pejambon Jakarta 27 April 1978
Potret Pembangunan dalam Puisi
(http://zhuldyn.wordpress.com)

DOA SEORANG SERDADU SEBELUM BERPERANG
Oleh :
W.S. Rendra

Tuhanku,
WajahMu membayang di kota terbakar
dan firmanMu terguris di atas ribuan
kuburan yang dangkal
Anak menangis kehilangan bapa
Tanah sepi kehilangan lelakinya
Bukannya benih yang disebar di bumi subur ini
tapi bangkai dan wajah mati yang sia-sia
Apabila malam turun nanti
sempurnalah sudah warna dosa
dan mesiu kembali lagi bicara
Waktu itu, Tuhanku,
perkenankan aku
membunuh
perkenankan aku menusukkan sangkurku
Malam dan wajahku
adalah satu warna
Dosa dan nafasku
adalah satu udara.
Tak ada lagi pilihan
kecuali menyadari
-biarpun bersama penyesalan-
Apa yang bisa diucapkan
oleh bibirku yang terjajah ?
Sementara kulihat kedua lengaMu yang capai
mendekap bumi yang mengkhianatiMu
Tuhanku
Erat-erat kugenggam senapanku
Perkenankan aku
membunuh
Perkenankan aku menusukkan sangkurku
Mimbar Indonesia
Th. XIV, No. 25
18 Juni 1960
(http://zhuldyn.wordpress.com)

GERILYA
Oleh :
W.S. Rendra
Tubuh biru
tatapan mata biru
lelaki berguling di jalan
Angin tergantung
terkecap pahitnya tembakau
bendungan keluh dan bencana
Tubuh biru
tatapan mata biru
lelaki berguling dijalan
Dengan tujuh lubang pelor
diketuk gerbang langit
dan menyala mentari muda
melepas kesumatnya
Gadis berjalan di subuh merah
dengan sayur-mayur di punggung
melihatnya pertama
Ia beri jeritan manis
dan duka daun wortel
Tubuh biru
tatapan mata biru
lelaki berguling dijalan
Orang-orang kampung mengenalnya
anak janda berambut ombak
ditimba air bergantang-gantang
disiram atas tubuhnya
Tubuh biru
tatapan mata biru
lelaki berguling dijalan
Lewat gardu Belanda dengan berani
berlindung warna malam
sendiri masuk kota
ingin ikut ngubur ibunya
Siasat
Th IX, No. 42
1955
(http://zhuldyn.wordpress.com)

GUGUR
Oleh :
W.S. Rendra
Ia merangkak
di atas bumi yang dicintainya
Tiada kuasa lagi menegak
Telah ia lepaskan dengan gemilang
pelor terakhir dari bedilnya
Ke dada musuh yang merebut kotanya
Ia merangkak
di atas bumi yang dicintainya
Ia sudah tua
luka-luka di badannya
Bagai harimau tua
susah payah maut menjeratnya
Matanya bagai saga
menatap musuh pergi dari kotanya
Sesudah pertempuran yang gemilang itu
lima pemuda mengangkatnya
di antaranya anaknya
Ia menolak
dan tetap merangkak
menuju kota kesayangannya
Ia merangkak
di atas bumi yang dicintainya
Belumlagi selusin tindak
mautpun menghadangnya.
Ketika anaknya memegang tangannya
ia berkata :
” Yang berasal dari tanah
kembali rebah pada tanah.
Dan aku pun berasal dari tanah
tanah Ambarawa yang kucinta
Kita bukanlah anak jadah
Kerna kita punya bumi kecintaan.
Bumi yang menyusui kita
dengan mata airnya.
Bumi kita adalah tempat pautan yang sah.
Bumi kita adalah kehormatan.
Bumi kita adalah juwa dari jiwa.
Ia adalah bumi nenek moyang.
Ia adalah bumi waris yang sekarang.
Ia adalah bumi waris yang akan datang.”
Hari pun berangkat malam
Bumi berpeluh dan terbakar
Kerna api menyala di kota Ambarawa
Orang tua itu kembali berkata :
“Lihatlah, hari telah fajar !
Wahai bumi yang indah,
kita akan berpelukan buat selama-lamanya !
Nanti sekali waktu
seorang cucuku
akan menacapkan bajak
di bumi tempatku berkubur
kemudian akan ditanamnya benih
dan tumbuh dengan subur
Maka ia pun berkata :
-Alangkah gemburnya tanah di sini!”
Hari pun lengkap malam
ketika menutup matanya

(http://zhuldyn.wordpress.com)
CHAIRIL ANWAR
PRAJURIT JAGA MALAM
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu ?
Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras,
bermata tajam
Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya
kepastian
ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini
Aku suka pada mereka yang berani hidup
Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam
Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu……
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu !
1948
Siasat,
Th III, No. 96
1949
MALAM
Mulai kelam
belum buntu malam
kami masih berjaga
–Thermopylae?-
- jagal tidak dikenal ? -
tapi nanti
sebelum siang membentang
kami sudah tenggelam hilang
Zaman Baru,
No. 11-12
20-30 Agustus 1957
KRAWANG-BEKASI
Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.
Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa
Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir
Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian
Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi
1948
Brawidjaja,
Jilid 7, No 16,
1957
DIPONEGORO
Di masa pembangunan ini
tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi api
Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati.
MAJU
Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu.
Sekali berarti
Sudah itu mati
.
MAJU
Bagimu Negeri
Menyediakan api.
Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditindas
Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai
Maju
Serbu
Serang
Terjang
(Februari 1943)
Budaya,
Th III, No. 8
Agustus 1954
NUR AZISAH
(saya sendiri)
AYAH
Oleh: Nur Azisah
Kuatnya egomu
Tak sekuat hatimu
Hatimu begitu lemah tak berdaya
Melihat sekelabat bayang anakmu jauh darimu

Air matamu yang selalu mengalir ditengah malam
Memikirkan anakmu yang jauh
Hatimu bagai semilir angin dipagi hari
Sesosok ayah yang keras tetapi memiliki jiwa yang teramat lemah

Kau ayahku
Ayah yang aku cinta
Ayah yang kuat
Tetapi mudah mengeluarkan air mata untuk anaknya.

MAMA
Oleh : Nur Azisah
Mama..
Kau itu sebenarnya apa?
Apakah bidadari yang dikirimkan Allah kepadaku?
Ataukah sesosok kartini kedua dihidupku?

Mama..
Kau itu seperti apa?
Aku merasa kau bagaikan buku pedoman yang selalu menemaniku
Yang mengingatkan hatiku untuk menjaga diri disini..

Mama..
Kau ini untuk siapa?
Aku pikir kau mendedikasikan jiwamu untuk Allah
Dan menjual dirimu kepada keluarga yang engkau cintai

Mama..
Kau ini apa?
Kau begitu kuat,
Jauh lebih kuat dari Ayah..
Hati dan jiwamu bagai sebuah gembok yang begitu kokoh
Yang aku harap tak akan goyah
Cinta katanya indah
Oleh : Nur Azisah
Mengapa aku?
Mengapa kamu?
Mengapa harus engkau yang kucinta
Cinta ini benar sakitnya

Cinta katanya indah
Tapi.. akhirnya begitu pedih
Seakan merobek jantung ini
Seakan siap menarik nyawa meninggalkan raga

Iya..
Cinta memang indah
Tapi hanya pada awalnya
Tetapi ketika kau tau bahwa anganmu tak akan terjadi
Kau akan terjatuh lalu mati

Dan..
Orang-orangpun menertawaimu
Sembari mengejekmu karena bodoh jatuh cinta pada kaktus itu.

Jika hanya dengan melihatmu
Oleh : Nur Azisah
Jika dengan melihatmu aku sebahagia ini
Akan aku tutup semua jendela rumahku
Lalu kutatap kau dari balik jendelaku tanpa terganggu
Oleh bunyi kikuk merpati

Jika dengan memandangmu
Menjadikan aku sebahagia ini
Maka aku tidak ingin tertidur lagi
Agar tidak terlewatkan oleh ekspresi bunyi ketukan cintamu

Jika hanya dengan melihatmu hatiku ingin meledak
Karena bahagia
Maka akan kututup mataku
Lalu bersiap untuk mendengar suaramu
Agar aku dapat mati dengan bahagia.
Setelah membaca puisi-puisi dari penyair ternama diatas :-P maka dapat kita simpulkan diksi puisi dari;
1. Amir Hamzah: Dari puisinya yang berjudul “Padamu Jua, Hanyut Aku, Doa Poyongku, dan Hnaya Satu”, banyak memiliki kata-kata yang berunsur kasih sayang, seperti pada kata “cintaku, kekasihku, sayang, kasihmu, keksihmu, kekasihku”. Seakan-akan ia tujukan kepada seseorang yang ia cintai. Yang mengganti sebuah surat menjadi sebuah bentuk puisi yang indah yang ia khususkan untuk kekasihnya yang begitu ia cintai. Yang menggambarkan kebesaran cintanya kepada seorang kasih yang begitu sempurna dihatinya.
2. Taufiq Ismail:dari puisinya yang berjudul “Larut Malam Suara Sebuah Truk, Bagaiimana Kalau, Bayi Lahir Bulan Mei 1998, Buku Tamu Musium Perjauangan”, banyak memiliki unsure yang berkesimpulan pada tanah air yang dibuktikan dengan adanya kata-kata seperti “laskar, kota, negeri, lagu Indonesia raya, ibukota Amerika, ibukota Indonesia, gunung Sahari, Indonesia, pemerintah, petani di desa, mensubsidi, kota kami, musimu perjuangan, berkunjung diluar kota, potret-potret para pahlawan, museum, PENGOEMOEMAN REPOEBLIK, di depan tugu, perang kemerdekaan”. Menggambarkan kepeduliannya kepada tanah airnya. Dan patut di sangka bahwa beliau sangat mencintai Negaranya yaitu Indonesia.
3. WS. Rendra:dari judul puisinya yang berjudul “Aku Tulis Pamplet Ini, Doa Seorang Serdadu Sebelum Berperang, Gerilya, Gugur”. Banyak kata-kata yang berunsur akhir dari sebuah kehidupan, yang terpatri dari kata-kata sebagai berikut; “monopoli kekuasaan, ketakutan, airmat, keagamaan, lumpur kehidupan, Tuhanku, kuburan, kehilangan bapak, membunuh, menusukkan sangkurku, kugenggam senapanku, tubuh biru, tujuh lubang pelor, tubuhnya, ngubur, pelor, merangkak, maut, jiwa, ketika menutup mata”. Menggambarkan seakan-akan kehidupan orang-orang disekitarnya begitu pedih, sakit dan membutuhkan Tuhan. Yang selalu berkeluh kesah kepada Tuhannya. Yang membutuhkan kehidupan yang lebih baik lagi dari yang ia hadapi saat ini. Yang juga menggambarkan kehidupannya saat itu begitu hancur tanpa Tuhan.
4. Chairil Anwar:pada puisi-puisinya yang berjudul “Prajurit Jaga Malam, Malam, Krawang-Bekasi, dan Diponegoro (andalan saya, dari SMP disuruh hapal)”. Banyak kata-kata yang bermakna kami adalah pemuda pembela bangsa, yang terbukti dari kata-katanya yang bertulis “kami, pemuda-pemuda, berselempang semangat, dan mereka”. Dari puisinya ia menyatakan bahwa aku dan teman-temanku akan selalu bersemangat membela Negeriku. Ia mengatakannya dengan jelas pada isi-isi puisinya yang rata-rata bertema pemuda negeri kami.
5. Nur Azisah:ehemm… sekarang giliran saya. Pada puisi saya yang berjudul “Ayah, Mama, Cinta Katanya Indah, Jika Hanya Dengan Melihatmu”, banyak bermakna berbicara kepada objeknya seperti pada kata “kamu, mu, engkau, kau”. Seakan-akan penyair yang satu ini bercerita kepada objeknya. Alias mengungkapkan isi hatinya kepada orang yang dijadikannya objek. Berkeluh-kesah kepada mereka. Ya.. bisa dikatakan curahan hati si penyair yang satu ini. Bercerita melalui puisi, bukan bercerita pada sebuah diari yang menurut saya *maaf* terlalu manja dan blak-blakan.

READMORE
 

AJIP ROSIDI



Biografi Ajip Rosidi



Nama  :  Ajip Rosidi
Lahir : Jatiwangi, 31 Januari 1938
Ayah :Dayim Sutawiria (1917-1990)
Ibu   : Hj. Sitti Konaah (1921-2000)
Istri : Fatimah Wirjadibrata(1955)
Anak  : Hj. Nunun Nuki Aminten (1956), Hj. Titi  Surti Nastiti (1957), H. Uga Percéka (1959), H. Nundang Rundagi (1961), H. Rangin Sembada (1963) dan Hj. Titis Nitiswari (1965).

Pendidikan: Sekolah Rakyat 6 tahun di Jatiwangi (1950), Sekolah Menengah Pertama Negeri VIII Jakarta (1953), Taman Madya, Taman Siswa Jakarta (1956, tidak tamat).  Selanjutnya otodidak.
AJIP ROSIDI (dibaca: Ayip Rosidi) mula-mula menulis karya kreatif dalam bahasa Indonesia, kemudian telaah dan komentar tentang sastra, bahasa dan budaya, baik berupa artikel, buku atau makalah dalam berbagai pertemuan di tingkat regional, nasional, maupun internasional. Ia banyak melacak jejak dan tonggak alur sejarah sastera Indonesia dan Sunda, menyampaikan pandangan tentang masalah sosial politik, baik berupa artikel dalam majalah, berupa ceramah atau makalah. Dia juga menulis biografi seniman dan tokoh politik. Pendidikan formalnya SD di Jatiwangi (1950), SMP di Jakarta (1953) dan Tainan Madya di Jakarta (tidak tamat, 1956), selanjutnya otodidak.
Ia mulai mengumumkan karya sastra tahun 1952, dimuat dalam majalah-majalah terkemuka pada waktu itu seperti Mimbar Indonesia, Gelanggang/Siasat, Indonesia, Zenith, Kisah dll. Menurut penelitian Dr. Ulrich Kratz (1988), sampai dengan tahun 1983, Ajip adalah pengarang sajak dan cerita pendek yang paling produktif (326 judul karya dimuat dalam 22 majalah).
Bukunya yang pertama, Tahun-tahun Kematian terbit ketika usianya 17 tahun (1955), diikuti oleh kumpulan sajak, kumpulan cerita pendek, roman, drama, kumpulan esai dan kritik, hasil penelitian, dll., baik dalam bahasa Indonesia maupun Sunda, yang jumlahnya kl. seratus judul.
Karyanya banyak yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa asing, dimuat dalam bungarampai atau terbit sebagai buku, a.l. dalam bahasa Belanda, Cina, Inggris, Jepang, Perands, Kroatia, Rusia, dll. Bukunya yang dalam bahasa Sunda, a.l. Kanjutkundang (bungarampai sastera setelah perang disusun bersama Rusman Sutiasumarga, 1963), Beber Layar! (1964), Jante Arkidam (1967), DurPanjak! (1967), Ngalanglang K.asusastran Sunda (1983), Dengkleung De’ngde’k (1985), Polemik Undak-usuk Basa Sunda (1987), Haji Hasan Mustapajeung Karya-karyana (1988), Hurip Waras! (1988), Pancakaki (1996), Cupumanik Astagina (1997), Eundeuk-eundeukan (1998), Trang-trang Kolentrang (1999), dll.
INI FOTO PERAYAAN ULANG TAHUN BELIAU YANG KE-70

SELAMAT YA OM.. TETAP BERKARYA.

Ia juga mengumpulkan dan menyunting tulisan tersebar Sjafruddin Prawiranegara (3 jilid) dan Asrul Sani (Surat-surat Kepercayaan, 1997). Ketika masih duduk di SMP men-jadi redaktur majalah Suluh Pelajar (Suluh Peladjar) (1953-1955) yang tersebar ke seluruh Indonesia. Kemudian men-jadi pemimpin redaksi bulanan Prosa (1955), Mingguan (kemudian Majalah Sunda (1965-1967), bulanan Budaya Jaya (Budaja Djaja, 1968-1979). Mendirikan dan memimpin Proyek Penelitian Pantun dan Folklor Sunda (PPP-FS) yang banyak merekam Carita Pantun dan mempublikasikannya (1970-1973).
Bersama kawan-kawannya, Ajip mendirikan penerbit Kiwari di Bandung (1962), penerbit Cupumanik (Tjupumanik) di Jatiwangi (1964), Duta Rakyat (1965) di Bandung, Pustaka Jaya (kemudian Dunia Pustaka Jaya) di Jakarta (1971), Girimukti Pasaka di Jakarta (1980), dan Kiblat Buku Utama di Bandung (2000). Terpilih menjadi Ketua IKAPI dalam dua kali kongres (1973-1976 dan 1976-1979). Menjadi anggota DKJ sejak awal (1968), kemudian menjadi Ketua DKJ beberapa masajabatan (1972-1981). Menjadi anggota BMKN 1954, dan menjadi anggota pengurus pleno (terpilih dalam Kongres 1960). Menjadi anggota LBSS dan menjadi anggota pengurus pleno (1956-1958) dan anggota Dewan Pembina (terpilih dalam Kongres 1993), tapi mengundurkan diri (1996). Salah seorang pendiri dan salah seorang Ketua PP-SS yang pertama (1968-1975), kemudian menjadi salah seorang pendiri dan Ketua Dewan Pendiri Yayasan PP-SS (1996).
Sejak 1981 diangkat menjadi guru besar tamu di Osaka Gaikokugo Daigaku (Universitas Bahasa Asing Osaka), sambil mengajar di Kyoto Sangyo Daigaku (1982-1996) dan Tenri Daigaku (1982-1994), tetapi terus aktif memperhatikan kehidupan sastera-budaya dan sosial-politik di tanah air dan terus menulis. Tahun 1989 secara pribadi memberikan hadiah sastra tahunan Rancage yang kemudian dilanjutkan oleh Yayasan Kebudayaan Rancage yang didirikannya. Ajip penerima Hadiah Sastra Nasional 1955-1956 untuk puisi (diberikan tahun 1957) dan 1957-1958 untuk prosa (diberikan tahun 1960). Tahun 1993 mendapat Hadiah Seni dari Pemerintah RI. Tahun 1999 menerima Kun Santo Zui Ho Sho (The Order of Sacred Treasure, Gold Rays with Neck Ribbon) dari pemerintah Jepang sebagai penghargaan atas jasa-jasanya yang dinilai sangat bermanfaat bagi hubungan Indonesia-Jepang.
Setelah pensiun ia menetap di Pabelan, Magelang, Jawa Tengah. Meskipun begitu, ia masih aktif mengelola beberapa lembaga non-profit seperti Yayasan Kebudayaan Rancagé dan Pusat Studi Sunda.
Penghargaan dan Hadiah



  1. Dalam Kongres Kebudayaan tahun 1957 di Denpasar,  mendapat Hadiah Sastra Nasional  untuk sajak-sajak yang ditulisnya tahun 1955-1956;
  2. Dalam Kongres  Kebudayaan tahun 1960 di Bandung, mendapat Hadiah Sastera Nasional  untuk  kumpulan cerita pendeknya yang berjudul  Sebuah Rumah Buat Haritua;
  3. Tahun 1975 mendapat Cultural Award dari Pemerintah Australia;
  4. Tahun 1993 mendapat Hadiah Seni dari Pemerintah Republik Indonesia;
  5. Tahun 1994, terpilih sebagai salah seorang dari “Sepuluh Putera Sunda yang membanggakan daerahnya”.
  6. Tahun 1988, sejumlah sahabatnya di Bandung mengadakan peringatan “Ajip Rosidi 50 Tahun” al. dengan menerbitkan buku Ajip Rosidi Satengah Abad.\
  7. Tahun 1999 mendapat Kun Santo Zui Hoo Shoo (Order of the Sacred Treasure, Gold Rays with Neck Ribbon) dari pemerintah Jepang;
  8. Tahun 2003 memperoleh Hadiah Mastera dari Brunei;
  9. Tahun 2004 mendapat Professor Teeuw Award dari Belanda.
  10. Tahun 2005, Paguyuban Panglawungan Sastera Sunda (PPSS) di Bandung menyelenggarakan acara dramatisasi, musikalisasi puisi, dan diskusi buku Ayang-ayang Gung dalam rangka 67 Ajip Rosidi (31 Januari 2005);
  11. Tahun 2007 mendapat Anugrah Budaya Kota Bandung 2007.
Seminar, Simposion dll:
Sejak di Kongres Kebudayaan di Solo (1954) ia aktif dalam berbagai simposion, seminar, kongres, konferensi atau lokakarya mengenai kebudayaan dan kesenian, terutama mengenai bahasa dan sastera, baik di tingkat daerah, nasional, regional, maupun internasional. Dalam berbagai kesempatan ia memberikan prasaran, kertas kerja ataupun laporan, antara lain:
  1. Simposion Sastera Indonésia dalam Pekan Kesenian mahasiswa di Jakarta (1960), memberikan prasaran “Sumbangan Angkatan Terbaru dalam Perkembangan Sastera Indonesia”;
  2. Seminar Pengarang Bacaan Remaja di Ciloto (1972), memberikan prasaran “Situasi Umum Bacaan Remaja Dewasa Ini”;
  3. Kongres Orientalis Internasional di Paris, memberikan laporan tentang kegiatannya merekam cerita pantun (sastera lisan) Sunda dengan judul “Pengalaman Saya Merekam Pantun Sunda” (1973);
  4. Pra-Seminar Politik Bahasa Nasional yang diselenggarakan oleh Direktorat Pembinaan Bahasa dan Kesusasteraan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan di Jakarta (1974), memberikan prasaran “Politik Bahasa Nasional dan Pengembangan Kesusasteraan”;
  5. Seminar Hari Sastera di Kuching, Sarawak, Malaysia yang diselenggarakan oleh Gapena (Gabungan Penulis Nasional, Malaysia) tahun 1974, memberikan kertas kerja tentang Kesusasteraan Sunda dan Kesusasteraan Kebangsaan Indonesia”;
  6. Seminar Politik Bahasa Nasional yang diselenggarakan oleh Pusat Pembinaan dan Pengambangan Bahasa di Jakarta (1975), memberikan prasaran tentang “Pengembangan Bahasa dan Sastera Daerah”;
  7. Seminar Hakcipta Nasional di Denpasar, Bali (1975), memberikan pembahasan tentang Ruanglingkup dan pengertian Hakcipta;
  8. Lokakarya Bahasa dan Sastera Daerah yang diselenggarakan oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa di Jakarta (1976), memberikan kertas kerja “Penterjemahan Sastera Daerah”;
  9. Seminar Sastera Nusantara di Singapura (1977), menberikan makalah “Nilai-nilai Tradisional dalam Sastera Indonesia”.
  10. Kongres Bahasa Indonesia III yang diselenggarakan oleh Pusat Pembinaan dan Pengambangan Bahasa (1978) di Jakarta, memberikan prasaran tentang Bahasa Indonesia sebagai bahasa ekspresi kreatif bertajuk “Bahasa Indonesia Sebagai Sarana Kreasi dan Pengembangannya”;
  11. Konferensi Internasional Tentang Peranan Seni dan sastera dalam Perkembangan Masyarakat yang diselenggarakan oleh Lembaga Riset Kebudayaan Timur. Konferensi ini diselenggarakan sehubungan dengan perayaan Gakushuin Daigaku yang ke100 di Tokyo (1978), memberikan kertas kerja berjudul “The Role of Literature and the Arts in the Social Development: Indonesian case”;
  12. Musyawarah Nasional Himpunan Pembina Bahasa Indonesia (1978), memberikan ceramah Tentang “Pengajaran Sastera dan Pengembangan Bahasa Indonesia”;
  13. Pertemuan Sasterawan Nusantara di Jakarta (1979), memberikan prasaran tentang “Keragaman Budaya dalam sastera Nusantara”;
  14. Seminar sehubungan dengan perayaan 100 tahun Auckland University, di Auckland, New Zealand tahun 1983, memberikan makalah tentang “Diversity in Unity”.
  15. Seminar tentang Tradisi dan Modernisasi yang diselenggarakan oleh Chubu Institute of Technology di Nagoya tahun 1984, memberikan prasaran tentang “Tradisi dan Modernisasi di Indonesia” ;
  16. Seminar Kebudayaan Sunda yang diselenggarakan oleh Proyek Sundanologi di Lembang, Bandung (1986), memberikan dua makalah yaitu “Pembinaan dan Pengembangan Kebudayaan Daerah (Sunda)” dan “Haji Hasan Mustapa: Menjejaki Karya-karyanya dan Arti Karya-karya itu bagi Pengembangan Kebudayaan Sunda” ;
  17. Seminar tentang Tradisi Lisan yang diselenggarakan oleh Museum Etnologi Nasional Jepang dengan Dirjen Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia di Jakarta (1987), memberikan makalah tentang “Tradisi Lisan di Indonesia dan Masa Depannya”;
  18. Dalam Kongres Bahasa Indonesia V yang diselenggarakan oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa di Jakarta (1988), menyampaikan prasaran “Sastera Indonesia dan Sastera Daerah”, kendati ia sendiri tidak bisa hadir;
  19. Seminar Tamaddun Malayu II yang diselenggarakan oleh pemerintah Malaysia di Kualalumpur, Malaysia (1989), memberikan makalah tentang “Sastera Da’wah Islamiyah di Indonesia”;
  20. Tahun 2001 atasnama Yayasan Kebudayaan Rancage menyelenggarakan KIBS (Konferensi Internasional Budaya Sunda) di Bandung.

Nilai-Nilai Sosial Dalam Hidup Ayip Rosyidi

ü  Sebagai salah satu putra daerah yang berhasil dikancah Internasional Ayip Rosyidi sama sekali tidak melupakan budaya tanah airnya.
ü  Ayip Rosyidi berusaha mengembangkan budaya daerah seperti Bahasa Sunda yang mulai tergerus globalisasi padahal Beliau 22 Tahun menetap di Jepang.
ü  Meskipun Beliau mengajar di 3 Universitas ternama di Jepang, Beliau terus berkarya dengan tidak melupakan sastra dan budaya nasional.
ü  Beliau bersama rekan-rekanya mendirikan Yayasan atau Lembaga guna mendidik, melestarikan dan menjaga Budaya Sunda.

Referensi copas langsung dari kembaran nama saya http://azizahbasalamah.blogspot.com/2012/03/biografi-ajip-rosidi.html
MAKASIH YA…
READMORE